Whatzap

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad : 7).
Tampilkan postingan dengan label Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan

Banzanji dan Paradoks Ritualitas Maulid SAW

Oleh: Hermanto Harun
dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi.. Mahasiswa Program Doktoral National University of Malaysia.

Syair kitab barzanji karya Sayid Ja'far bin Husain bersentuhan dengan ahlaq Nabi. Tapi hanya jadi nyanyian ketika perayaan Maulid


Muhammad bin Abdullah, itulah nama yang paling masyhur sejagad. Sebuah nama yang selalu paling popular dalam semua zaman, melebihi semua bintang, selebritis dan bahkan tokoh yang telah dan akan menjadi pigur manusia di atas bentangan bumi ini. Popularitas nabi Muhammad SAW seolah tidak pernah menemui kata penutup bagi tinta sejarah dalam merekam jejaknya. Segala tingkah laku, tutur kata dan perjuangannya senantiasa menjadi acuan dalam tindakan manusia. Rekam jejak nabi Muhammad SAW menitiskan keteladanan yang melampaui sekat kesukuan, kebangsaan dan bahkan keagamaan. Sehingga sampai hari ini, biograpi (sirah) nabi terakhir ini (khatam al-nabiyin) paling banyak ditulis oleh umat manusia. Ragam tulisan biograpi tentang nabi Muhammad SAW mencakup semua dimensi dan sudut pandang keilmuan, baik ekonomi, sosial, politik, budaya dan kemanusiaan. Dengan demikian, Anis Mansur, pemikir sekaligun budayawan Mesir, menoreh judul buku-nya A’zam al-Khalidin (pembesar-pembesar yang abadi) dengan menempat sosok nabi Muhammad sebagai pembesar pertama di antara nama pembesar dunia lainnya. Kebesaran nabi Muhammad, menurut Anis, karena beliaulah satu-satunya manusia di jagad ini yang paling sukses, baik pada tatanan keagamaan maupun keduniaan. (Anis Mansur, 2005, 7).

Pelbagai karya tentang kepribadian nabi Muhammad SAW itu tidak hanya digoreskan oleh para ulama Islam yang notabene-nya pemangku warisan risalah beliau. Akan tetapi, ada cukup banyak karya yang diukir oleh kurir tinta pengingkar dan oposisinya. Hilal Gorgun dalam website lastprophet.info, mencoba merekam banyak karya para orientalis yang mencoba menganalisa sosok Rasul tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul ”The Orientalist View of Prophet Muhammad” Gorgun menyebutkan karya Montgomery Watt, dalam Muhammad at Madina yang menjelaskan bahwa sebagai tokoh besar dalam sejarah, nabi Muhammad adalah tokoh yang paling banyak dicemari namanya. Masih banyak lagi karya orientalis tersebut seperti Refutation du Coran Confutatio Alcorani yang ditulis oleh Nicetas Byzantium pada abad ke 9 M, juga Chronographia yang ditulis oleh Theophanes (758 - 816).

Ragam perspektif, motif dan bahkan keyakinan perbagai penulis dan sejarawan, telah memeriahkan sekaligus memperlengkap catatan-catatan kepribadian Rasulullah tersebut, sehingga wujud nabi Muhammad SAW yang telah sirna dari alam fana, seolah dapat diilustrasikan kembali dalam kenyataan. Gambaran kepribadian Rasul selalu menjadi rujukan yang dirindu kehadirannya dalam segala ruang waktu dan masa. Sehingga semua problematika kemanusiaan sampai hari ini, bahkan untuk masa mendatang, seolah telah terakomodasi dalam sabda Rasul. Dinamika kehidupan manusia dalam lintas waktu, rasanya sangat sulit untuk tidak menoleh kepada perilaku nabi Muhammad, karena sosok kenabian dan kerasulannya mamang telah dipersiapkan oleh Pengutus (Allah SWT) untuk menjadi problem solver, pengayom dan penerang bagi kehidupan anak cucu Adam. Disnilah letak relevansi jawaban Aisyah RA ketika ditanya oleh para sahabat tentang perilaku Rasulullah, seperti apakah akhlak nabi Muhammad SAW itu? dengan bahasa yang lugas, Aisyah mengungkapkan ”kana khuluquhu Al-Quran” (akhlaknya adalah Al-Quran), sebagimana juga termaktub dalam firman Allah SWT ”wainnaka la’ala khuluk azlim”.

Dalam bingkai keindonesiaan, bincang tentang keteladanan Rasul SAW sudah menjadi bagian dari ritualitas budaya yang telah berurat berakar. Bulan Rabiul Awal seakan terhipnotis oleh ritual maulid yang tidak boleh absen dari agenda tahunan umat, bahkan telah menjadi ritual beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sehingga pada tanggal 12 Rabiul Awal dijadikan hari cuti nasional.

Tentu dalam perspektif keagungan seorang utusan Tuhan, pengadaan pelbagai ritual hingga keputusan cuti nasional sebagai perlambangan akan cinta kepada baginda Rasul, rasanya juga belum sangat memadai, karena perjuangan nabi Muhammad SAW tidaklah sebanding dengan hadiah cuti tersebut. Bahkan, seremoni perngatangan maulid justru tidak jarang mengaburkan substansi perjuangan dan risalah ajaran yang dibawa beliau, baik dalam realitas kemanusiaan maupun dalam bingkai kerasulan. Dalam bingkai kemanusiaan, misalnya, bagaimana sikap Rasul yang sangat care terhadap eksistensi manusia, bahkan sampai kepada jasad manusia sekalipun. Seketika jenazah seorang Yahudi melintas dihadapannya, maka Rasul berdiri sebagai penghormatan atas jasad manusianya.

Maulid dan Kitab Barzanji

Dalam perspektif kerasulan, ada banyak hal yang sangat urgen untuk ditelaah kembali dalam kegiatan seremonial maulid al-rasul. Seremonial maulid yang sejatinya tidak semata ritualitas yang pada akhirnya terjumus kepada pengkultusan dan bahkan cenderung taqlid buta kepada budaya, adat istiadat dan bahkan meniru ritual agama selain Islam, merupakan kecelakaan sejarah dalam menerjemahkan pesan kerasulan Muhammad SAW. Pesan maulid yang seharusnya merekatkan kembali parsialitas pemahaman masyarakat tentang Islam yang integral, justru semakin samar. Kesan maulid di tengah masyarakat hanya tercitrakan dengan koor syair-syair kitab barzanji yang ditulis oleh ulama asal Kurdistan (al-barzanjiyah) yang bernama Sayid Ja'far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji.

Kitab Barzanji yang berjudul asli "I'qd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabiy al-Azhar" karangan ulama kesohor tesebut, isinya sangat bersentuhan dengan kehidupan Rasul, baik hikayat beliau dilahirkan, keluarga sampai kepada akhlak moral. Namun, sangat disayangkan, bait-bait syair indah dalam kitab tersebut hanya sekedar lantunan hiburan yang miskin akan makna spritualitasnya. Penerjemahan seremoni maulid ke dalam ruang ”ritualitas” sangat mungkin merupakan bagian dari parsialitas pemahaman Islam tadi, karena keberkesanan hari kelahiran Rasul seolah bentuk lain dari perayaan ”happy birth day” walau dipoles dengan irama verbalistas religius. Padahal, substansi dari perayaan maulid, selain aktualitas cinta secara verbal, mengenang kepribadian dan perjuangan Rasul, juga bagaimana menerjemahkan ketauladanan pribadi beliau ke dalam segala dimensi kehidupan manusia kekinian.

Bertolak dari fakta tersebut, akhirnya para ulama berbeda pendapat tentang perayaan ”ritual” maulid Nabi. Dari yang berdapat sangat literal sampai kepada asumsi rasional, dari yang beragumen bid’ah hingga yang berasumsi sunnah. Misalnya, Ibn Hajar berasumsi bahwa perayaan maulid belum dikreasikan pada era pertama Islam, sedangkan Jalal al-Din al-Suyuthi berasumsi bahwa seremoni maulid sudah ada semenjak kelahiran Rasul. Dengan hujjah bahwa kakek baginda nabi, Abd al-Muthalib dan nabi sendiri merayakannya sebelum era kerasulan. Pendapat lain dari Abd Rauf Uthman, yang menyuguhkan bahwa perayaan maulid ”dipatenkan” oleh penguasa Dinasti Syiah Fathimiyyah di Kairo sebagai media aproac kepada rakyat. Namun ada juga yang berasumsi bahwa perayaan maulid berawal dari inovasi Shalahuddin al-Ayubi sebagai injeksi ruh jihad kepada prajuritnya dalam menghadang pasukan salibis.

Terlepas dari mana yang paling benar dari pendapat di atas, yang jelas semua sepakat bahwa kepribadian Rasul sebagai uswah hasanah telah diabadikan Tuhan dalam Al-Quran. Uswah hasanah tersebut jelas tidak tereliminasi dalam ranah yang sempit, parsial, apatahlagi harus terkungkung dalam wilayah seremonik. Hal ini selaras dengan argumen Said Hawwa dalam bukunya al-Rasul, yang menjelaskan empat sifat esensial para Rasul itu. Pertama, kejujuran mutlak yang tidak akan pernah dibatalkan dalam kondisi apapun. Karena itu, ungkapan para Rasul akan selalu bersenyawa dengan ranah realitas. Kedua, sikap konsistensi yang total terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Sang Pengutusnya. Dari sini, perilaku seorang Rasul sangat mustahil keluar dari rule yang telah digariskan Tuhan. Ketiga, kontinuitas peyampaian kandungan al-risalah (wahyu) secara integral walau harus menghadapi pelbagai tantangan. Keempat, kecerdasan yang brilian, karena penyampain wahyu akan mangalami stagnasi jika tidak sepadan dengan rasionalitas umat. Semua muwasafat (karakteristik) Rasul ini merupakan elemen dasar dari kepribadian Rasul dengan tanpa mengesampingkan karakteristik yang lain.

Jadi, peringantan maulid yang telah menjelma menjadi ritual tersebut, jelas bukan sekedar menceritakan keindahan pisik Rasul, keanggunan akhlak, kepiawaian kepemimpinan, dan keagungan risalah yang dibawa oleh beliau, akan tetapi semestinya semua itu menjadi cermin bagi umatnya dalam mengaca perilaku kehidupan. Sudahkan ritual itu menjadi standar yang selalu dievaluasi, atau hanya lipstik dari ungkapan bibir yang tidak pernah beriringan dengan kebijakn perilaku kita?jika belum, maka ritual maulid hanya drama paradoksal yang dipentaskan di panggung dusta. Nauzubillah! Wallhu’alam.

Readmore »»

Kemuliaan Muhammad Saw Melebihi Nuh as

Kemuliaan Muhammad Saw Melebihi Nuh as

Seorang Yahudi bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, dengan maksud merendahkan Nabi kita Muhammad Saw. Ia berkata, "Lihatlah Nabi Nuh as. Dia bersabar karena Allah SWT, dan dia memaafkan kaumnya disaat mereka mendustakannya,"
Sayyidina Ali menjawab, "Ya, itu benar!" Dengan tersenyum Ali melanjutkan, "Namun Nabi kami Muhammad Saw ber­sabar karena Allah, dan telah memaafkan kaumnya pada saat mereka mendustakannya, mengusir, dan bahkan melemparinya dengan kerikil."
Ali kemudian menceritakan, "Abu Lahab pernah meletakkan di atas kepalanya kotoran kambing, lalu Allah Swt memerintahkan Malaikat Ja'abil (malaikat penjaga gunung) untuk menemui baginda Muhammad saw Malaikat Ja'abil mengatakan kepada baginda Muhammad Saw, "Diriku diperintahkan oleh Allah Swt untuk mentaatimu, wahai Nabi Allah. Apabila Engkau ingin agar aku menghimpit mereka dengan gu­nung, maka akan aku binasakan mereka."


Namun Nabi kami Muhammad Saw menjawab dengan sabar, "Aku diutus sebagai rahmat." Muhammad Saw bahkan mendoakan mereka, "Ya, Allah, berilah umatku ini hidayah karena mereka be-lum mengetahui."

Namun si Yahudi itu tidak mau menyerah. Ia kembali berkata, "Nabi Nuh as berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah hujan deras dari langit."

Mendengar itu, Ali kembali tersenyum dan menjawab pertanyaan si Yahudi, "Ya itu benar. Nabi Nuh as berdoa dalam keadaan marah, sementara hujan deras diturunkan Allah Swt karena kasih sayang," Sayyidina Ali melanjutkan ceritanya, "Ketika Nabi kami Muhammad Saw hijrah ke Madinah, datanglah penduduk Madinah pada hari Jumat menemui beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, sudah lama hujan tidak turun. Pohon-pohon menguning (kering), dedaunan berjatuhan," keluh mereka.

Rasulullah Muhammad Saw lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Allah Swt, sehingga tampak putih lipatan pangkal kedua tangannya. Langit yang semula terang tidak berawan, tiba-tiba berubah menjadi gelap dan turunlah hujan deras, begitu derasnya sehingga seorang pemuda yang gagah perkasa hampir mati ketika pulang ke rumahnya, karena saking derasnya hujan, dan akhirnya mengakibatkan banjir.

Kejadian itu berlangsung selama seminggu. Penduduk Madinah kembali mendatangi Rasulullah Muhammad Saw pada hari Jumat berikutnya dan berkata, "Ya Rasulullah, rumah-rumah menjadi hancur, kami tidak bisa berangkat mencari nafkah!" keluh mereka lagi.

Nabi kami Muhammad Saw tersenyum sejenak dan berkata, " Beginilah cepatnya manusia bosan." Lalu beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ini semua menguntungkan kita dan tidak membahayakan kita.." Maka hujan pun mulai reda di sekitar kota Madinah, sedangkan di kota Madinah sendiri hujan berhenti total. Itulah mukjizat Nabi kami Muhammad Saw."

Readmore »»

Kemuliaan Muhammad Saw Melebihi Nuh as

Kemuliaan Muhammad Saw Melebihi Nuh as

Seorang Yahudi bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, dengan maksud merendahkan Nabi kita Muhammad Saw. Ia berkata, "Lihatlah Nabi Nuh as. Dia bersabar karena Allah SWT, dan dia memaafkan kaumnya disaat mereka mendustakannya,"
Sayyidina Ali menjawab, "Ya, itu benar!" Dengan tersenyum Ali melanjutkan, "Namun Nabi kami Muhammad Saw ber­sabar karena Allah, dan telah memaafkan kaumnya pada saat mereka mendustakannya, mengusir, dan bahkan melemparinya dengan kerikil."
Ali kemudian menceritakan, "Abu Lahab pernah meletakkan di atas kepalanya kotoran kambing, lalu Allah Swt memerintahkan Malaikat Ja'abil (malaikat penjaga gunung) untuk menemui baginda Muhammad saw Malaikat Ja'abil mengatakan kepada baginda Muhammad Saw, "Diriku diperintahkan oleh Allah Swt untuk mentaatimu, wahai Nabi Allah. Apabila Engkau ingin agar aku menghimpit mereka dengan gu­nung, maka akan aku binasakan mereka."


Namun Nabi kami Muhammad Saw menjawab dengan sabar, "Aku diutus sebagai rahmat." Muhammad Saw bahkan mendoakan mereka, "Ya, Allah, berilah umatku ini hidayah karena mereka be-lum mengetahui."


Namun si Yahudi itu tidak mau menyerah. Ia kembali berkata, "Nabi Nuh as berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah hujan deras dari langit."

Mendengar itu, Ali kembali tersenyum dan menjawab pertanyaan si Yahudi, "Ya itu benar. Nabi Nuh as berdoa dalam keadaan marah, sementara hujan deras diturunkan Allah Swt karena kasih sayang," Sayyidina Ali melanjutkan ceritanya, "Ketika Nabi kami Muhammad Saw hijrah ke Madinah, datanglah penduduk Madinah pada hari Jumat menemui beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, sudah lama hujan tidak turun. Pohon-pohon menguning (kering), dedaunan berjatuhan," keluh mereka.

Rasulullah Muhammad Saw lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Allah Swt, sehingga tampak putih lipatan pangkal kedua tangannya. Langit yang semula terang tidak berawan, tiba-tiba berubah menjadi gelap dan turunlah hujan deras, begitu derasnya sehingga seorang pemuda yang gagah perkasa hampir mati ketika pulang ke rumahnya, karena saking derasnya hujan, dan akhirnya mengakibatkan banjir.

Kejadian itu berlangsung selama seminggu. Penduduk Madinah kembali mendatangi Rasulullah Muhammad Saw pada hari Jumat berikutnya dan berkata, "Ya Rasulullah, rumah-rumah menjadi hancur, kami tidak bisa berangkat mencari nafkah!" keluh mereka lagi.

Nabi kami Muhammad Saw tersenyum sejenak dan berkata, " Beginilah cepatnya manusia bosan." Lalu beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ini semua menguntungkan kita dan tidak membahayakan kita.." Maka hujan pun mulai reda di sekitar kota Madinah, sedangkan di kota Madinah sendiri hujan berhenti total. Itulah mukjizat Nabi kami Muhammad Saw."


Readmore »»

Ayat-ayat Cinta untuk Muhammad

*Seandainya seluruh manusia membencinya
*Muhammad tetap yang terbesar
*Sebab Allah telah mengangkat derajatnya
*Di maqam (tempat) yang paling mulia!
*Beliau mencapai keunggulan dengan kesempurnaannya
*Menerangi kegelapan dunia dengan nur-nya
(Syeikh Sa´adi al-Syiradzi)


Bait syair itu didendangkan oleh penyair sufi Islam dari Persia Syeikh Sa´adi al-Syiradzi ketika berziarah ke makam Rasululullah di An-Nabawy Madinah al-Munawwarah. Memang begitulah yang sebenarnya. Posisi Muhammad tetap yang teragung di antara makhluk, sebab Allah telah memilihnya sebagai Sayyidil Ambiyai wal Mursalin (Penghulu segala Nabi dan Rasul) dan telah menjadikannya sebagai manusia teladan. Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi yang mengharap ridha Allah dan pahala di hari kemudian (QS. al-Ahzab:21)

Muhmmad Rasulullah pembawa risalah Islamiyah, agama al-Haq untuk umat manusia. Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkannya dari semua agama, meskipun orang-orang musyrik tidak mau beriman (QS.ash-Shaff:9). Kebenaran Islam menyebabkan agama suci ini sangat banyak dibenci dan dimusuhi oleh orang-orang kafir. Meski dibenci agama yang paling terakhir ini pertumbuhannya di dunia sangat cepat jika dibandingkan dengan agama-agama yang lain.

Rahmat bagi semesta

Ahli Sirah Nabawiyah, Dr Akram Dhiya´ al-Umri mengatakan; semua rasul terdahulu diutus untuk kaumnya, tetapi Muhmmad saw diutus untuk seluruh manusia, seluruh bangsa tanpa membedakan ras dan kulit. Dalam hal ini Allah berfirman, Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan untuk manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (QS. Saba´:28).

Rasulullah diutus untuk menjadi rahmat untuk seluruh jagat raya. Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan rahmat untuk sekalian alam (QS. al-Ambiya:107). Katakanlah hai Muhammad! Wahai seluruh manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua (QS. al A´raf:158).

Sebelum Nabi Muhammad, sudah banyak para Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk kaumnya masing-masing. Allah mengumumkan bahwa beliau Nabi terakhir penutup para Nabi dan Rasul (QS. al-Ahzab:40). Jadi kalau ada manusia yang mengaku dirinya nabi atau rasul yang diutus Allah setelah Muhammad mereka itu pendusta. Hal itu pernah dilakukan oleh Musailamah Kazzab, Saijah, Thalhah, (Arab), Mirza Gulam Ahmad, (India) Lia Eden, Ahmad Mosadeq, dua terakhir dari Indonesia.

Banyak khilafiah tentang hari dan tanggal kelahiran Nabi, namun pendapat yang paling kuat dan popular adalah Nabi umat Islam Muhammad saw lahir di Mekkah, Senin, tanggal 12 Rabiul Awal 571M bersamaan dengan tahun Gajah. Sebab pada tahun itu tentara bergajah di bawah panglima Abrahah dari Yaman datang ke Mekkah ingin menghancurkan Ka´bah. Kisah ini diabadikan dalam Alquran (baca surah al-Fil).

Ayah Nabi seorang pemuda tanpan Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf seorang wanita suci dari ketrunan tersohor. Muhammad telah menjadi yatim begitu dilahirkan. Ibunya wafat ketika berusia enam tahun. Kakeknya Abdul Muthalib mengasuhnya sampai berusia delapan tahun. Setelah kakek meninggal pengasuhan diambil oleh pamannya Abu Thalib sampai Muhammad dewasa (kitab Sirah Nabawiyah: Muhammad Al-Ghazali).

Dicintai dan mencintai

Umat Islam memperingati hari kelahirannya (maulid) sebagai wujud cinta yang paling hakiki. Cinta kepada Rasul saw melebihi cinta kepada ibu-bapa dan diri mereka sendiri. Nabi hendaklah lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. (QS.al-Ahzab:66). Jika ada yang mencintai Nabi setengah hati, imannya belum benar.

Setiap saat kaum Muslimin wajib mengucapkan Duakalimah Syahadah ––Asyhadu anal Ilaha Illallaah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Aku naik saksi tidak ada tuhan selain Allah dan Aku naik saksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Syahadatain juga diserukan dalam azan dan qamat menjelang shalat fardhu. Usai shalat juga didoakan oleh berjuta-juta kaum muslimin agar Nabi selalu ditambah kelebihan, kemulian, ditinggikan derajat dan diutamakan kemualiannya.

Allah swt juga menyeru orang-orang mukmin agar berselawat kepada Nabi Muhammad saw. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-nya juga berselawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepada Nabi, mengucapkan salam sejahtra (QS: al Ahzab:56).

Kaum Muslimin mencintai Allah dan rasul-Nya pada posisi cinta ranking pertama dan utama. Cinta yang tulus dan suci itu akan membawa kelezatan dan kemanisan iman yang tiada taranya. Jika harus memilih antara dilempar dalam api yang menyala atau mengingkari Muhammad, maka seorang mukmin akan memilih lebih baik dilempar dalam api daripada harus membenci sang Nabi pembawa cahaya yang terang bederang (hadis sahih riwayat Bukhari). Khalifah Abubakar berkata: Aku mencintai Rasulullah melebihi cintaku kepadaku, ayah dan ibuku .

Pernah terjadi di masa Rasulullah, seorang pemuda yang bernama Hubeib sangat mencintai Nabi. Dia sangat marah ketika orang-orang kafir Quraisy menghina Nabi. Hubeib yang gagah berani membela Nabi dengan cara menentang mereka. Hubeib ditangkap dan disiksa. Orang kafir memaksa supaya Hubeib mengingkari kerasulan Muhammad atau memilih mati dibunuh? Hubeib memilih syahid karena cintanya kepada Nabi Muhammad saw. Mayatnya dicencang oleh musuh Allah pengikut Abu Jahal. Sahabat lain, Abdullah bin Huzaifah juga memilih lebih baik disiksa oleh orang Rumawi dari mengingkari cinta kepada Nabi yang mulia. Bagitu juga Samiyah, Yassir, Ammar bin Yassir, dan Bilal bin Rabbah.

Semua itu buah makrifah yang diilhami Allah Azza wajalla kepada orang beriman dengan risalah yang dibawa oleh baginda Nabi sallahu alaihi wassalam. Muhammad saw dicintai Allah, maka sangat wajar umatnya yang beriman mencinta Nabi. Cinta murni nan sejati seperti cinta Ali bin Abi Thalib yang tidur pada tempat tidur Nabi malam hijrah atau cinta Abubakar Siddiq ketika malam hijrah bersembunyi berdua dalam Gua Tsur.

Gelar Habibullah (kekasih Allah) yang diberikan sang Khaliq kepada Nabi Muhammad saw adalah bukti lain bahwa Muhammad mendapat kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Nabi Ibrahim bergelar Khalilullah , Musa Kalamullah , dan Isa Ruhullah , namun menurut ahli muradif bahasa al-Quran, Prof Dr Aisyah Bintsy Syathi´, kata Habibullah itu telah mencakup gelar-gelar yang diterima Ibrahim, Musa dan Isa. Allah mengangkat nama Muhammad sangat tinggi disisi nama-Nya dalam dua kalimah syahadat: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu (QS: al-Insyirah:4).

Jujungan kita Nabi Muhammad saw, rasul yang sangat mencintai dan dicintai pula oleh umatnya. Beliau berdakwah dan berjihad untuk menyelamatkan manusia dari kehidupan yang gelap (syirik, munafik, ingkar, jahiliyah). Rasul saw menyeru mereka kepada alam yang terang benderang (agama tauhid, jujur, berilmu pengetahuan, beriman, berakhlak mulia).

Jika ada seorang manusia yang masuk dalam agamanya, beliau turut gembira dan bahagia. Sebaliknya jika ada manusia yang mendustakannya beliau sedih dan bersabar. Beliau memang seorang lelaki tanpan, berbudi tinggi, pemaaf, santun, jujur, benar, cerdas dan amanah. Sifat-sifat itu melekat pada dirinya sejak belia sehingga kaumnya memberi gelar al-Amin yang jujur.

Allah swt mengabarkan tentang Muhammad sebagai pemilik kesempurnaan di atas akhlak yang mulia. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. al-Qalam:4).

From : serambinews.com

Readmore »»