Whatzap

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad : 7).
Tampilkan postingan dengan label REMAJA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REMAJA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Training of Takmir (ToT)


Biasanya kita sering sering denger ToT kepanjangan dari Training of Trainer, tapi ToT yang ada di SMANSA GENTENG bukan, tapi Training of Takmir. Pak Edi (Wakasis) sempat ngakak dengernya, gimana nggak, ‘T’ trakhir bukan Trainer tapi ‘Takmir’. “ana-ana wae arek-arek iki….” Kata Pak Edi, artinya ada aja anak-anak anak ini….


ToT diikuti oleh semua anggota takmir dan di luar anggota takmir yang berminat. Materi ToT sesuai dengan tujuan diselenggarakannya ToT, yaitu meliputi sejarah Takmir Masjid Al-Hidayah, aqidah, akhlaq, ESQ, keorganisasian, kemuslimahan. Selain itu, dalam ToT juga ada outbondnya lhooo….!. qiyamul lail juga nggak ketinggalan, meski waktu pelaksanaan ada aja yang ‘gugur’ alias kesirep alias ketiduran.
Materi-materi dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh guru SMAN 1 GENTENG dan dari pihak luar. Diantaranya adalah Drs. H. Abdul Karim, Drs. H. Abdul Latief, Mr. Farid dan Mr. Yanto (Trainer ESQ), P. Makmun, dan Bu Ita.
Tema dari kegiatan ToT adalah “IMAN DAN ILMUKU TERWUJUD DALAM SYUKURKU.
Makna Singkat Tema
Meski kita hanya punya secuil iman dalam hati dan sedikit ilmu dalam otak, namun haruslah tetap kita syukuri. Bersyukur di sini tidak hanya sebatas ucapan alhamdulillah, namun juga dengan sikap dan tindakan kita.
Iman tidak hanya di hati, namun harus diimplementasikan (ciee sok ilmiah..baca:diamalkan) dalam kehidupan sehari-hari. Sedikit ilmu di otak tidak hanya untuk diingat dan dibayangkan, namun juga harus berguna bagi diri sendiri dan lingkungan. Jadi, iman dan ilmu yang kita miliki meski sedikit haruslah tetap kita syukuri dalam ucapan, sikap, dan tindakan. Coba kita ingat2, Allah pernah menginformasikan pada kita tentang syukur, bahwa Dia akan menambah nikmat (bisa berupa Iman, Ilmu, ide, segelas teh hangat, buku, pensil, pena, punya computer, bisa baca tulis, cinta, buanyak dehh) kepada hambanya yang bersyukur dengan nikmat serupa atau nikmat yang lainnya. Ingat, bersyukur bukan sekedar ucapan lhooo.
Punya otak normal, alhamdu…….? Lillah, nggak hanya itu doank, punya otak ya harus buat mikir, belajar, dll. Punya mata sehat, alhamdu….? Lillah buat apa aja hanyooo?, punya kaki & tangan buat apa? Punya telinga, mulut, lidah, buat apa? Apa hanya alhamdulillah. Punya waktu luang, apa hanya alhamdulillah. Punya otak cerdas, apa hanya alhamdulillah. Punya banyak buku yang udah lunas (he…he…) apa hanya alhamdulillah? I think, kita udah paham tentang syukur. And…… kalo udah paham tentang syukur apa juga hanya alhamdulillah. Ayoo kita semua syukuri dengan ucapan alhamdulillah, berdayakan sumberdaya yang ada, dan bersikap sesuai iman di hati dan ilmu yang ada di otak, meski hanya sedikit, pasti akan ditambah tuh iman dan ilmu (atau nikmat lainnya). Jangan sampek teori 100 praktek NOL BESAR.
Moga-moga kegiatan ToT dapat menjadi titik awal kita untuk mensyukuri nikmat Allah khususnya Imam dan Ilmu, sehingga kita dapat meraih kebahagiaan yang hakiki (sebenarnya).
Katanya singkat …. Tapi koq puanjang…

Readmore »»

Perbaiki Diri Kita


“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
( Imam Syafi’i )

"Renungkanlah pendeknya umurmu. Andaikata engkau berumur seratus tahun sekalipun, maka umurmu itu pendek jika dibandingkan dengan masa hidupmu kelak di akhirat yang abadi, selama-lamanya.


Coba renungkan, agar dapat beristirahat ( pensiun )selama dua puluh tahun, dalam satu bulan atau setahun engkau sanggup menanggung berbagai beban berat dan kehinaan di dalam mencari dunia. Tetapi mengapa engkau tidak sanggup menanggung beban ibadah selama beberapa hari demi mengharapkan kebahagiaan abadi di Akhirat nanti?
Jangan panjang angan-angan, engkau nanti akan berat untuk beramal. Yakinilah bahwa tak lama lagi engkau akan mati. Katakana dalan hatimu :
Pagi ini aku akan beribadah meskipun berat, siapa tahu nanti malam aku mati. Malam ini aku akan sabar untuk beribadah, siapa tahu besok aku mati.
Sebab, kematian tidak datang pada waktu, keadaan dan tahun tertentu. Yang jelas ia pasti dating. Oleh karena itu, mempersiapkan diri menyambut kedangan maut lebih utama daripada menpersiapkan diri menyambut dunia. Bukankah kau menyadari betapa pendek waktu hidupmu di dunia ini? Bukankah bisa jadi ajalmu hanya tersisa satu tarikan dan hembusan napas atau satu hari?
Setiap hari lakukanlah hal ini dan paksakan dirimu untuk sabar beribadah kepada Allah swt. Andaikata engkau ditakdirkan untuk hidup selama lima puluh tahun dank au biasakan dirimu untuk sabar beribadah, nafsumu tetap akan berontak, tetapi ketika maut menjemput kau akan berbahagia selama-lamanya. Tetapi, ketika engkau tunda-tunda dirimu untuk beramal, dan kematian dating di waktu yang tidak kau perkirakan
( Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Jika engkau telah berusia empat puluh tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal shaleh siang maupun malam. Sebab, waktu pertemuanmu dengan Allah 'Azza wa Jalla semakin dekat. Ibadah yang kau kerjakan saat ini tidak mampu menyamai ibadah seorang pemuda yang tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Bukankah selama ini kau sia-siakan masa muda dan kekuatanmu. Andaikata saat ini kau ingin beramal sekuat-kuatnya, tenagamu sudah tidak mendukung lagi.
Oleh karena itu beramallah sesuai kekuatanmu. Perbaikilah masa lalumu dengan banyak berdzikir, sebab tidak ada amal yang lebih mudah dari dzikir. Dzikir dapat kamu lakukan ketika berdiri, duduk, berbaring maupun sakit. Dzikir adalah ibadah yang paling mudah.
Rasulullah saw bersabda :
وليكن لسانك رطبا بذكر اللّه
Dan hendaklah lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah swt.
Bacalah secara berkesinambungan doa' dan dzikir papa pun yang mudah bagimu. Pada hakikatnya engkau dapat berdzikir kepada Allah swt adalah karena kebaikannya. Ia akan mengaruniamu…..
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"Ketahuilah, sebuah umur yang awalnya disia-siakan, seyogyanya sisanya dimanfaatkan. Jika seorang ibu memiliki sepuluh anak dan sembilan diantaranya meninggal dunia. Tentu ia akan lebih mencintai satu-satunya anak yang masih hidup itu. Kamu telah menyia-nyiakan sebagian besar umurmu, oleh karena itu jagalah sisa umurmu yang sangat sedikit itu.
Demi Allah, sesungguhnya umurmu bukanlah umur yang dihitung sejak engkau lahir, tetapi umurmu adalah umur yang dihitung sejak hari pertama engkau mengenal Allah swt.
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"seseorang yang telah mendekati ajalnya ( berusia lanjut ) dan ingin memperbaiki segala kekurangannya di masa lalu, hendaknya dia banyak membaca dzikir yang ringkas tetapi berpahala besar. Dzikir semacam itu akan membuat sisa umur yang pendek menjadi panjang, seperti dzikir yang berbunyi :
سبحان اللّه العظيم وبحمده عدد خلقه ورضانفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
Maha suci Allah yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya, ( kalimat ini kuucapkan ) sebanyak jumlah ciptaan-Nya, sesuai dengan yang ia sukai, seberat timbangan Arsy-Nya dan setara dengan jumlah kata-kata-Nya.
Jika sebelumnya kau sedikit melakukan shalat dan puasa sunah, maka perbaikilah kekuranganmu dengan banyak bershalawat kepada Rasulullah saw. Andaikata sepanjang hidupmu engkau melakukan segala jenis ketaatan dan kemudian Allah swt bershalawat kepadamu sekali saja, maka satu shalawat Allah ini akan mengalahkan semua amalmu itu. Sebab, engkau bershalawat kepada Rasulullah sesuai dengan kekuatanmu, sedangkan Allah swt bershalawat kepadamu sesuai dengan kebesaran-Nya. Ini jika Allah swt bershalawat kepadamu sekali, lalu bagaimana jika Allah swt membalas setiap shalawatmu dengan sepuluh shalawat sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Hadits Shahih?
Betapa indah hidup ini jika kau isi dengan ketaatan kepada Allah swt, dengan berdzikir kepada-Nya dan bershalawat kepada Rasulullah saw."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

Readmore »»

Nasehat Untuk Kita


for everyone
Ust Dr Abdullah Yasin
Menyadari tentang apa yang sedang melanda kebanyakan remaja pada hari ini samada budaya lepak, sex bebas, sifat kurang hormat kepada orang tua, kurang minat menuntut ilmu, ataupun sifat suka mengabaikan kewajipan agama seperti solat dan menutup aurat, maka saya sebagaimana perasaan ibu bapak dan orang-orang tua lainnya turut merasa prihatin terhadap perkembangan yang tidak sehat ini.

Sungguh banyak pengaduan dari ibu bapak tentang hal ini. Mereka telah berusaha sedaya-upaya untuk memperbaiki keadaan anak-anak yang dikasihi, namun tidak berhasil walaupun sudah diberi nasihat, sudah banyak berdoa untuk kesejahteraan anak, namun kelakuan anak tidak juga berobah. Malahan ada sesetengah ibu bapak yang sudah hampir sampai ke peringkat putus asa menghadapi kenakalan anak-anaknya.

Maka didorong olih perasaan turut bertanggungjawab untuk menanggulangi dan mengatasi masalah ini, maka di bawah ini izin saya untuk mengemukakan beberapa nasihat agama untuk menjadi renungan olih setiap remaja tanpa mengira di mana mereka sedang berada.


1) Siapakah Manusia?


Manusia adalah makhluk Allah yang paling istimewa. Allah mencipta mereka dalam bentuk yang paling elok. (lihat surah At-Tin ayat 4). Keelokan manusia bukan hanya terletak pada parasnya tetapi ia sangat ditentukan olih akhlak atau budi pekertinya. Keelokan dan kecantikan manusia adalah karena manusia makhluk yang berilmu, bolih berfikir, mempunyai daya inisiatif dan kreatif, mempunyai tutur bahasa dan budaya.

Sifat-sifat ini dimiliki olih datok kita yang pertama Nabi Adam (alayhi salam). Atas sebab inilah makhluk mulia di langit iaitu para malaikat disuruh olih Allah agar sujud menghormati Nabi Adam. Apakah sebabnya? Apakah keistimewaan yang ada pada Nabi Adam yang tidak dimiliki olih para malaikat sehingga mereka disuruh sujud kepada Adam? Jawabnya ialah karena Nabi Adam ada ilmu yang tidak ada pada malaikat. (lihat kisah ini dalam surah Al-Baqarah ayat: 30 – 34).

Olih itu manusia dipandang mulia bukan sekadar karena ia berasal dari Nabi Adam. Tetapi kemuliaan mereka adalah karena mereka makhluk yang berilmu, bolih berfikir, mempunyai daya kreatif dan inisiatif.


2) Dari Mana Asal Manusia?

Ditinjau dari satu sudut kita bolih mengatakan bahwa kita berasal daripada Nabi Adam karena manusia pertama yang dicipta olih Allah adalah Adam. Dan kita juga bolih mengatakan bahwa asal manusia adalah dari air mani (sperma) karena keturunan manusia berkembang melalui hubungan antara suami dan isteri. Kisah tentang kejadian manusia ini bolih kita lihat dengan jelas dalam surah Al-Haj ayat 5.

Jadi manusia bukan berasal dari monyet atau kera sebagaiaman dakwaan yang dibuat olih Darwin dengan teori evolusinya. Kita mesti ingat bahwa Darwin adalah orang Yahudi. Dan Yahudi sememangnya selalu berusaha agar kita umat Islam memutuskan hubungan kita dengan wahyu Ilahy (Al-Quran). Kalau kita mahu merenung dengan ikhlas surah Al-Haj ayat 5 di atas niscaya kita kan mendapat jawapan yang tepat dari Yang Maha Pencipta tentang asal-usul kita. Coba fikir, apakah Darwin Yahudi itu lebih tahu dari Allah Yang Maha Pencipta?

Yahudi sentiasa berusaha untuk menyebarkan kebinasaan di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau seorang profesor di Amerika pernah mengatakan kepada para mahasiswa dan mahasiswinya: “Kalau kamu semua telah mengakui bahwa kamu semua berasal dari monyet; Apakah perlunya kalau kawin kamu mesti pergi ke gereja? Maksud pertanyaan itu ialah kita bolih buat style monyet, kita bolih mempunyai budaya monyet. Inilah sebabnya mengapa di Barat tidak sensitif dan tidak tercela dalam pandangan masyarakat mereka budaya bohsia, free sex, sekedudukan tanpa kawin, homosex, mendedahkan aurat dan lain-lain lagi. Mengapa? Karena itu semua adalah tidak aib bagi masyarakat monyet!

Kita meyakini bahwa kita keturunan Adam dan Hawa. Kita makhluk mulia. Kita bukan keturunan binatang. Kita mesti jaga kedudukan istimewa ini. Allah mengingatkan kita bahwa status manusia akan direndahkan olih Allah dan kita akan ditempatkan di kerak neraka kelak kecuali jika pada kita ada dua sifat iaitu iman dan amal salih (lihat At-Tin ayat 5-6).


3) Apakah Tujuan Hidup Manusia?

Yang paling layak menentukan apakah tujuan kita hidup di dunia ini adalah Allah Yang Maha Pencipta. Allah berfirman dalam surah Adz-Dzaariyat ayat 56 (yang bermaksud):

“Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”

Ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas ialah ibadah dalam pengertian yang luas iaitu patuh dan taat kepada Allah. Olih sebab itu para ulama mentakrifkan ibadah di sini:

“Segala bentuk aktiviti yang kita lakukan, asalkan mengharap kasih dan keredhaan Allah, samada ucapan atau perbuatan, yang zahir ataupun yang batin”.

Olih sebab itu adalah salah kalau kita berpendapat bahwa tujuan kita hidup adalah untuk enjoy (berseronok) saja. Apalagi kalau dijawab: “Hidup untuk makan”. Kalau begitu, apakah bedanya antara kita dengan kerbau dan kambing?

Matlamat kita diciptakan adalah sama dengan matlamat datok kita Adam dicipta olih Allah iaitu sebagai KHALIFAH ALLAH di atas muka bumi ini. Apakah makna khalifah Allah? Maknanya: Pelaksana kehendak Allah. Kehendak-kehendak Allah tertera seluruhnya di dalam Kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi. Dan khusus untuk kita umat Nabi Muhammad (sallallahu alayhi wasalam) kita hendaklah merujuk segala tindak-tanduk kita agar bersesuaian dengan kehendak Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad (sallallahu alayhi wasalam). Kita tidak berhak mencari pilihan yang lain. Hakikat ini tertera di dalam surah Al-Ahzab ayat 36 (yang membawa maksud):

“Tidak berhak mukmin dan mukminat jika Allah dan rasulNya telah menetapkan sesuatu hukum maka ia ingin mencari pilihan yang lain. Dan sesiapa yang ingkar kepada kehendak Allah dan Rasul maka jatuhlah dia ke dalam kesesatan yang nyata”.


4) Siapakah Musuh Kita?

Kita mestilah sadar bahwa musuh utama kita adalah IBLIS atau SYAITAN. Dia enggan sujud menghormati datok kita Adam. Sikapnya yang sombong itu akhirnya mendapat kemurkaan Allah. Allah SWT mengutuk Iblis. Dan Iblis tahu bahwa yang menjadi sebab utama dia dikutuk adalah Adam. Iblis dendam kepada Adam lalu dia memohon kepada Allah agar Allah mengizinkannya untuk menggoda Adam dan anak cucunya. Permohon Iblis itu dikabulkan olih Allah. Dan semua kita tahu bahwa Adam dan Hawa dikeluarkan olih Allah dari syorga adalah karena tipu daya Iblis (laknatullah ‘alayhi). Iblis terus bekerja keras untuk memesongkan anak cucu Adam dari jalan Allah yang lurus.

Allah menyuruh kita agar memohon kepadaNya minima 17 kali dalam sehari: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”. Dan Allah SWT mengingatkan kita agar kita jangan menyembah (patuh) kepada syaitan. Lihat Surah Yasin ayat 60-61 (maksudnya):

“Bukankah Aku telah memerintahkan kamu wahai anak cucu Adam iaitu agar kamu jangan menyembah (mengikuti godaan dan rayuan) syaitan, sesungguhnya dia bagi kamu adalah musuh yang nyata-nyata. Dan hendaklah kamu hanya menyembah (patuh) padaKu. Inilah yang lurus”.


Kesimpulan yang dapat diambil dari ayat-ayat di atas:

1. Allah melarang kita mengikuti jejak langkah syaitan.
2. Allah memanggil manusia dalam ayat ini dengan istilah: “Wahai anak cucu Adam”, bukan dengan istilah “wahai manusia”. Ini memberi isyarat agar kita hendaknya selalu ingat tentang peristiwa pahit yang pernah menimpa datok kita Adam dan Hawa, yang karena tipu syaitanlah mereka akhirnya dikeluarkan dari syorga.
3. Allah menyuruh kita agar menyembahnya iaitu dengan mematuhi suruhanNya dan menjauhi laranganNya.
4. Selanjutnya Allah tegaskan bahwa hanya dengan mematuhiNya barulah kita mendapat “jalan yang lurus”.



5) Siapakah Syaitan?

Dalam bahasa Arab, kata syaitan diambil daripada akar kata “syatana” yang artinya “ba’uda”. Dan dalam bahasa kita “ba’uda” maknanya jauh.Olih sebab itu para ulama kita menyimpulkan bahwa syaitan ialah: Segala yang menjauhkan kita daripada kebenaran (hak). Atau dengan kata lain; syaitan adalah segala yang ingin menjauhkan kita daripada kehendak Allah, karena kebenaran (Al-Haq) ialah segala yang datang dari Allah. Sila lihat Al-Baqarah, ayat 147 (yang bermaksud):

“Segala kebenaran adalah dari Tuhanmu, olih sebab itu janganlah kamu ragu-ragu lagi”.

Dan karena perintah solat, puasa, menutup aurat, ihsan kepada ibu bapak adalah datangnya daripada Allah, maka itu semua adalah Al-Hak atau kebenaran. Olih sebab itu syaitan akan berusaha agar kita jangan melakukan perintah –perintah itu. Begitu juga dengan larangan berzina, homosex, onani, merogol, berjudi, minum arak, berkata bohong. Semuanya datang daripada Allah. Olih sebab itu bisikan yang mendorong kita agar melakukan dosa-dosa itu adalah datangnya dari syaitan.


6) Syaitan Jin Dan Syaitan Manusia

Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa syaitan ada dua jenis iaitu syaitan dari jenis jin dan syaitan dari jenis jenis manusia. Lihat firman Allah dalam surah Al-an’aam 112 (yang bermaksud):

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu ada musuh, iaitu syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia”.

Olih sebab itu kita mestilah hati-hati kalau mencari kawan. Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa kawan-kawan yang suka mengajak kita melakukan maksiat, sebenarnya mereka adalah syaitan dari jenis manusia. Atau dengan kata lain mereka telah ditonggangi olih syaitan jin untuk memesongkan kita dari jalan yang lurus.


7) Jangan Cepat Menyalahkan Orang Lain

Memilih teman yang berakhlak mulia adalah sangat penting dan merupakan salah satu cara untuk mengatasi krisis moral yang melanda kaum muda-mudi karena kawan yang baik biasanya selain mendorong kita agar berbuat baik, dia juga akan menasihati kita agar menjauhi perkara maksiat dan mungkar. Olih sebab itu kita mestilah berhati-hati dalam mencari teman. Khawatir kalau-kalau dia sebenarnya adalah syaitan manusia yang kelak hanya akan menyusahkan kita.

Dan ditinjau dari sudut lain pula. Jika kita terlanjur melakukan maksiat karena anjuran rakan-rakan kita, maka kita sepatutnya jangan cepat menyalahkan mereka, apalagi samapai menyalahkan orang tua kita sendiri.

Menurut penyelidikan bahwa remaja yang sudah baligh adalah sudah mampu berfikir dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Mereka sudah mampu memilih jalan mana yang wajar mereka tempuh untuk mencapai bahagia di dunia dan di akhirat.

Atas sebab itulah maka di dalam Islam anak yang sudah baligh mesti menanggung sendiri apa saja yang mereka lakukan. Jika baik maka mereka berhak mendapat pahala, dan jika sebaliknya maka mereka sendiri yang mesti menanggung risikonya dan bukan orang tuanya lagi.

Olih sebab itu kita tidak perlu mempersalahkan sesiapa jika diri kita tidak baik, tetapi persalahkanlah diri kita sendiri. Kita ada akal fikiran untuk menimbang mana yang baik dan mana yang buruk. Malahan selanjutnya walaupun syaitan itu adalah musuh kita, namu kitapun tidak bolih mempersalahkan syaitan. Coba renungkan kata-kata syaitan kepada orang-orang yang berdosa ketika berada di dalam neraka nanti. Allah SWT menceritakannya dalam surah Ibrahim ayat 22:

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, olih sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kamu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolong aku”.


JIkalau kita tidak bolih mempersalahkan syaitan, maka apatah lagi kalau kita samapai berani mempersalahkan Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Kononnya jika kita telah ditakdirkan olih Allah jadi begini dan begitu. Jangan terlalu lancang terhadap Allah.

Omar Ibnu Al-Khattab (ra) pernah menyuruh agar memtong kedua-dua tangan pencuri, bukan hanya sebelah. Mengapa? Karena ketika pencuri itu ditanya: Mangapa kamu mencuri? Dia menjawab: “Ya Amiral Mukminin, bukankah nasib semua kita sudah ditetapkan olih Allah sejak azali? Jadi, karna nasib saya telah ditentukan olih Allah sejak awal lagi sebagai pencuri maka saya pun mencuri. Jadi mengapa tuan mempersalahkan saya, sepatutnya Tuhanlah yang mesti tuan persalahkan! Mendengar jawapan itu lalu Omar menyuruh agar memtong kedua tangannya. Tangan pertama dipotong karena mencuri, dan tangan kedua dipotong karena ia telah berdusta atas nama Allah iaitu menuduh Allah yang menyuruhnya mencuri.

8) Bolihkah Kita Memperbaiki Akhlak Yang Buruk

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Allah menyuruh manusia agar berakhlak baik dan Allah melarang mereka melakukan maksiat. Allah Yang Maha Pencipta sangat Mengetahui kemampuan manusia. Dia tidak akan menyuruh manusia melakukan sesuatu yang manusia tidak mampu melakukannya. Demikian juga Dia tidak akan melarang manusia sesuatu yang manusia tidak mampu meninggalkannya.

Olih sebab itu sebenarnya manusia berakhlak mulia sebagaimana mereka juga adalah mampu menghindarkan diri mereka daripada maksiat.

Hanya saja mereka sebenarnya telah terperangkap dalam perangkap syaitan. Mereka terlalu memperturutkan hawa nafsu yang telah ditonggangi olih syaitan. Padahal sebenarnya tipu daya syaitan itu amat lemah. Allah berfirman dalam surah An-Nisaa ayat 76 (maksudnya):

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu amat lemah”.

Olih sebab itu, manusia yang ingin selamat mestilah memperkuat dirinya dengan banyak mendekatkan dirinya kepada Allah. Kita tidak bolih minta tolong pada manusia dari gangguan syaitan. Mengapa? Karena syaitan nampak manusia, sedangkan manusia tidak nampak syaitan. Kita mestilah minta tolong kepada Allah. Mengapa? Karena Allah nampak syaitan, sedangkan syaitan tidak nampak Allah. Atas dasar inilah mengapa kita disuruh memohon perlindungan dengan mengucapkan isti’aadzah:

“Aku berlindung kepada Allah daripada gangguan syaitan yang direjam”.

Atas dasar itu perbanyaklah ingat kepada Allah, pertingkatkan ibadah kepadaNya. Dan renunglah wasiat Nabi di bawah ini.

“Wahai remaja, peliharalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjaga kamu, peliharalah (hukum-hakam) Allah niscaya Allah akan bersama kamu, jika kamu memohon sesuatu maka mohonlah kepada Allah”.

(Hadis Hasan Sahih riwayat Imam Tarmizi)


9) Umur Muda Sangat Berharga

Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) bersabda: Sekali-kali tidak akan berganjak kedua kaki seorang hamba (manusia) pada Hari Kiamat nanti sehingga kepadanya ditanya tentang empat perkara:


1. Tentang umurnya kemana dia habiskan
2. Tentang masa mudanya kemana dia pergunakan
3. Tentang hartanya darimana dia perolihi dan kemana ia belanjakan
4. Tentang ilmunya apakah yang dia amalkan.


(Hadis Riwayat Al-Bazzar dan Al-Tabarany dengan sanad sahih)

Dalam hadis di atas dinyatakan bahwa selain umur seseorang akan akan ditanya olih Allah di akhirat nanti, juga tentang masa mudanya akan ditanya secara berasingan, padahal muda adalah sebahagian daripada umur manusia. Ini menunjukkan bahwa masa muda adalah adalah masa yang sangat tinggi nilainya dan sangat berharga.

Olih sebab itu para pemuda hendaklah mempergunakan masa mudanya dengan sebaik-baiknya untuk amal-amal yang berguna, samada berguna untuk dunianya ataupun berguna untuk akhiratnya. Dia tidak sewajarnya menyia-nyiakan masa mudanya. Ingat! Masa adalah kehidupan. Sebanyak mana masa itu disia-siakan maka berarti sebanyak itu pulalah kehidupanmu telah kamu sia-siakan.

Sungguh tepat nasihat Nabi (sallallahu alayhi wasalam): Gunakanlah yang lima sebelum datang yang lima: Hidup sebelum mati, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, masa lapang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit.


10) Allah Sangat Cinta Kepada Pemuda Yang Tobat

Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam) bersabda bahwa Allah telah berfirman: “Aku cinta kepada 3 golongan, tetapi terhadap 3 golongan lainnya lebih Aku cintai: Aku cinta kepada orang yang pemurah, tetapi terhadap orang yang hidupnya sederhana dan pemurah pula maka dia lebih Aku cintai. Aku cinta kepada orang yang tawadhu’ (rendah diri), tetapi terhadap orang kaya (berpangkat) dan tawadhu’ pula, maka dia lebih Aku cintai. Aku cinta kepada orang yang tobat kepadaKu, tetapi terhadap anak muda yang bertobat kepadaKu, maka dia lebih Aku cintai”.

(Hadis Qudsi – Sahih – Riwayat Ibnu Hibban)

Mengapa Allah lebih mencintai anak muda yang tobat? Karena biasanya anak muda lebih bertenaga, rangsangan nafsu mereka lebih kuat. Jiwa mereka belum tenang seperti orang yang berumur empat puluhan ke atas. Dan barangkali inilah rahasianya mengapa kebanyakan para Nabi diangkat olih Allah pada umur 40 tahun.


Jadi pemuda yang bertobat kepada Allah berarti mereka ada kesungguhan dan memerlukan perjuangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang sudah lanjut usianya. Dan karena inilah Allah lebih mencintai mereka jika mereka tobat.


11) Kemana Kita Akan Pergi Sesudah Mati?

“Setiap manusia pasti merasakan mati”. Ungkapan ini walaupun menggerunkan, tetapi ada lagi ungkapan yang lebih menggerunkan, iaitu: “Setiap manusia pasti akan ditanya dan bertanggungjawab ke atas apa yang dia telah lakukan”.

Tentang ungkapan pertama, kita hanya menunggu giliran. Tentang bila giliran kita, wallahu a’lam. Malaikat Maut akan mencabut nyawa manusia tanpa pilih umur. Dia akan menjalankan tugasnya “any time”. Kita mesti bersedia.

Bagaimana dengan ungkapan kedua? Kematian kita bukan seperti kematian binatang yang jika mati habis perkara. Kita akan ditanya! Ujian di sana tidak seperti ujian di dunia yang jika “fail” kita bolih ulang ikut ujian tahun berikutnya. Kegagalan di sana NERAKA tempatnya yang panasnya 70 kali ganda panas api di dunia ini. Soalan di sana bukan dijawab olih mulut tetapi AMAL. Apakah yang kamu akan jawab jika hidupmu bergelimang maksiat, suruhan Allah tidak dibuat, nasihat orang tua dan guru tidak didengar?


Semoga nasihat sederhana ini dapat dijadikan sebagai bahan renungan, dan mohon maaf sekiranya dalam nasihat ini terdapat kata-kata yang kurang wajar diungkapkan.

Readmore »»

Masturbasi (Onani) Ditinjau Dari Sisi Agama, Kesehatan dan Psikologis(I)

Mengintip sejenak masalah ini, yang banyak dialami oleh kalangan muda. Bukan rahasia umum lagi bahwa onani (masturbasi) sering dilakukan oleh generasi muda yang belum menikah. Bukan hanya pria diantara wanita pun ada yang melakukannya. Lalu bagaimana syari’at kita memandang permasalahan ini begitu juga dari sisi kesehatan dan psikologis? apakah benar bahwa masturbasi merupakan penyelesaian yang bisa menekan gejolak seksualitas seseorang? Untuk menemukan jawabannya marilah kita pelajari masalah ini dengan seksama.


Dalam bahasa Indonesia Masturbasi memiliki beberapa istilah yaitu onani atau rancap, yang maksudnya perangsangan organ sendiri dengan cara menggesek-geseknya melalui tangan atau benda lain hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme.Sedangkan bahasa gaulnya adalah coli atau main sabun yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, dengan menggunakan tambahan alat bantu sabun atau benda-benda lain, sehingga dengannya dia bisa mengeluarkan mani(ejakulasi).

Tujuan utama dari masturbasi adalah untuk mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tidak bersenggama.Dalam islam masturbasi dikenal dengan beberapa nama yaitu, al-istimna’ al-istimna’ billkaff, nikah al-yad, �jildu �umairah, al-i’timar atau ‘adatus sirriyah. Masturbasi yang dilakukan oleh wanita, disebut al-ilthaf.



Menurut penelitian, para pemuda yang berumur antara 13 dan 20 tahun merupakan usia yang paling banyak melakukan masturbasi. Biasanya yang melakukan masturbasi adalah anak-anak muda yang belum kawin, atau menjanda, orang-orang dalam pengasingan dan bermacam-macam lagi. Dan, jika dibandingkan, anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan. Diantara penyebabnya ialah:

a. nafsu seksual anak perempuan tidak datang melonjak dan eksplosif, berbeda dengan anak laki-laki.

b. perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada masalah sanggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma(ihtilam) lebih banyak dialami oleh anak-anak laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada anak perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga.



Masturbasi di Tinjau dari Segi Kesehatan


Para ilmuwan barat dan juga psikolog modern mengatakan bahwa melakukan onani tidak merusak kesehatan jika dilakukan tidak secara berlebih-lebihan. Karena ia hanyalah mengeluarkan apa yang berlebihan pada tubuh jadi kehilangan benih tidaklah merugikan tubuh karena kelenjar�kelenjar benih segera mengisi kekosongan. Meskipun demikian hal ini tidaklah menjadi dalil di bolehkannya melakukan onani karena sebenarnya bahaya dan kerugiannya terletak pada segi yang lain.(Lihat :Bimbingan Seks Suami Istri Pandangan Islam dan Medis, hal 192 ,dr. Nina Surtiretna).

Walau tidak memberi dampak secara medis, masturbasi dapat memberi dampak pada keintiman dan kelanggengan pernikahan. Dari penelitian yang dilakukannya, Dr. Archibald mengatakan bahwa pria yang bermasturbasi akan terus melakukannya sekalipun telah menikah. Mereka bermasturbasi karena ketagihan. *(Lihat : Masturbasi: Masalah Klasik Pria, hal 61, dr. Handrawan Nadesul)


Masturbasi di Tinjau dari Segi Psikologis

Sebagaimana yang kita ketahui seseorang yang melakukan masturbasi satu-satunya sumber rangsangan seksual adalah dengan berupa khayalan. Khayalan diri sendiri itulah yang menciptakan rangsangan dan gambaran erotis dalam pikiran tidak ada cara lain yang ikut serta. Berbeda dengan senggama yang asli dimana kedua belah pihak yaitu suami dan istri berpartisipasi membangkitkan gairah seksual mereka yang berakhir pada kepuasan dan kebahagian.Seluruh anggota tubuh turut mengambil bagian bukan hanya anggota kelamin saja (berbeda dengan masturbasi). Jadi masturbasi tidak memberikan kepuasan yang sebenarnya, hanya kepuasan semu semata.



Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa dalam persetubuhan (senggama) suami istri terdapat puncak kenikmatan, puncak kasih sayang terhadap pasangannya, pahala, shadakah, kesenangan jiwa, hilangnya pikiran-pikiran kotor, hilangnya ketegangan, badan terasa ringan dan bertambah sehat .Pada setiap bagian tubuh mendapat sentuhan kenikmatan. Mata memperoleh kenikmatan dengan memandang pasangannya, telinga mendengar perkataannya, hidung mencium aromanya, mulut mengecupnya dan tangan mengelusnya. Setiap anggota badan mendapat bagian kenikmatan yang dituntutnya.*

(Raudhatul Muhibbin Taman Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, hal 179-180)



Lalu bandingkanlah dengan masturbasi, tentu sangat jauh sekali.Hasilnya masturbasi tidak bekerja sebagai suatu kebajikan karena secara psikologis masturbasi ini malah menciptakan depresi emosional dan psikologis (kejiwaan). Pelakunya akan selalu dihantui perasaan bersalah dan berdosa. Sedangkan pada persetubuhan suami istri didapat ketenangan dan pahala yang besar berdasarkan hadits berikut ini:



و في بضع احدكم اجر قا لوا يا رسول الله ا ياتي احد نا شهوثه و يكون له اجر ؟ قا ل : أ ر أيتم لو وضعها في

الحرام أ كا ن عليه وزر؟ قا لوا : نعم قال : فكذ لك إذا وضعها في الحلال يكون له أجر. ( رواه مسلم)

�Dan, didalam persetubuhan salah seorang diantara kalian ada pahala�. Mereka bertanya, �Wahai Rasulullah, adakah salah seorang diantara kami memuaskan birahinya dan dia mendapat pahala karena itu?� Beliau bersabda: �Bagaimana pendapat kalian jika dia meletakannya pada hal yang haram, apakah dia mendapat dosa?� Mereka menjawab, �Benar�, beliau bersabda, �demikian pula jika dia meletakannya pada hal yang halal, maka dia mendapat pahala� (HR.Muslim)



Bahkan termasuk dalam golongan syuhada apabila ia mendapati dirinya mati dalam keadaan junub (mengumpuli istrinya) haditsnya dari Jabir bin Atik dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:

�Syuhada itu ada tujuh selain orang yang gugur berperang fi sabilillah ( di jalan Allah) yaitu: Orang yang mati ditusuk adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, mati berkumpul dengan istri adalah syahid, mati sakit perut adalah syahid, mati terbakar adalah syahid, mati tertimpa reruntuhan adalah syahid dan wanita yang mati melahirkan anak adalah syahid� (HR.Ahmad 5/446, Abu Dawud hadits no.3111, Nasaa�i 4/13-14, dan Hakim dalam kitab Mustadraknya 1/352 dengan komentar hadits ini sanadnya shahih. Pendapat ini di setujui oleh Adh-Dhahabi)*

(Husnul Khatimah Akhir Yang Baik, hal 39)

Bersambung pada tulisan kedua insya Allah,…
sumber: http://jilbab.or.id/

Readmore »»

TANYA JAWAB - ONANI -

Kebiasaan buruk masturbasi/onani

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Tanya :
“Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal. Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”


Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Yang artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu'minuun: 5 - 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.

Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.

Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]

Onani, kebiasaan yang tersembunyi

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”

Jawab : “Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan :

(yang artinya) : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [7] Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [QS Al Mu'minuun: 5 - 7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.

Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]

Kebiasan jelek beronani/masturbasi
Tanya :
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”

Jawab :
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya.

(yang artinya) : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [7] Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [QS Al Mu'minuun: 5 - 7]

Al-‘Adiy artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (artinya) : “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya” [Muttafaq ‘Alaih]

Didalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama.
Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua.
Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya. (yang artinya) : “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah” [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

[Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]

Berhubung banyak yang menanyakan tentang hukum beronani di bulan puasa atau saat berpuasa, maka berikut fatwa dari dua Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah masa ini berkaitan dengan masalah tersebut.
Hukum Beronani di Bulan Ramadhan

Oleh: Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullaah

Soal:

Apa hukumnya orang yang beronani di bulan Ramadhan, apakah ia dikenai sanksi sebagaimana sanksi yang dikenakan kepada orang yang melakukan jimak dengan istrinya (di siang hari di bulan Ramadhan)?

Asy-Syaikh Muqbil menjawab:

Ia berdosa, namun tidak ada kafarah (denda) atasnya. Ia berdosa karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang beliau riwayatkan dari Rabbnya:

“Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku.”

Ia tidak wajib mengqadhanya, karena qadha tidak ditunaikan kecuali dengan adanya dalil, sedangkan dalil-dalil yang ada berlaku bagi orang yang safar (bepergian) dan orang yang sakit, bila ia berbuka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

Demikian pula dengan wanita yang haidh, ia harus mengqadha puasanya berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Wanita yang menyusui dan wanita hamil mengqadha puasa bila mereka berbuka berdasarkan hadits dari Anas bin Malik Al-Ka’bi, dan mengqadha puasa didasarkan pada ayat tersebut di muka. Wallaahu a’lam. (Ijaabatu as-Saail, soal no. 101)

(Dinukil dari إجابة السائل (Asy-Syaikh Muqbil Menjawab Masalah Wanita) karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, hal. 31-32; penerjemah: Abu ‘Abdillah Salim; editor: Abu Faruq Ayip Syafruddin; penerbit: Penerbit An-Najiyah, cet ke-1, Rajab 1428H/Agustus 2007M untuk http://almuslimah.co.nr)
Apakah Onani Membatalkan Puasa?

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullaah

Soal:

Jika seseorang yang sedang berpuasa melakukan masturbasi (onani), apakah perbuatan ini membatalkan puasanya? Apakah ia wajib untuk membayar kaffaarah?

Jawab:

Jika seseorang yang sedang berpuasa melakukan masturbasi hingga ejakulasi (mengeluarkan mani), maka puasanya batal dan ia wajib mengqadha puasa untuk hari ketika ia melakukan masturbasi.

Tidak ada kaffaarah atasnya, karena kaffaarah tidak diwajibkan kecuali untuk jimaa’, namun ia harus bertaubat atas apa yang telah ia lakukan.

(Fataawa Arkaanul Islaam, Darussalam, vol. 2, hal. 661)

(Diterjemahkan dari http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=702 untuk http://almuslimah.wordpress.com)


Dari fatwa di atas nampak ada perbedaan pendapat antara Syaikh Muqbil dan Syaikh Al Utsaimin -Rahimahullah ajma’in-, nampak bagi ana fatwa dari Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’ lebih kuat, yaitu tidak adanya qadha bagi orang yang beronani, namun dia berdosa. Hal ini karena untuk penetapan diperlukannya qadha memerlukan dalil khusus dan tidak ditemukan dalil mengenai kewajiban mengqadha puasa akibat beronani. Ini pendapat pribadi ana, Wallahu ‘alam


Sekedar tambahan informasi, Alhamdulillah sekarang telah terbit sebuah buku setebal 104 halaman yang membahas tentang onani yang diterbitkan oleh penerbit Al Husna. Buku tersebut berjudul “Bahas Tuntas Hukum Onani” yang merupakan risalah terjemahan dari risalah yang ditulis oleh Al Imam Asy Syaukani dan Asy Syaikh Muqbil berkenaan dengan hukum onani. Buku tersebut di terjemahkan oleh Abu Hudzaifah Yahya, Abu Umar Urwah, Abu Luqman ‘Abdullah dengan muraja’ah oleh Al Ustadz Abu ‘Abdirrahman ‘Abdul ‘Aziz -Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memberi ganjaran yang setimpal atas amal mereka-

Readmore »»